6 Teori Asal Usul Tata Surya Menurut Para Ahli

44

6 Teori Asal Usul Tata Surya Menurut Para Ahli


Asal Usul Tata Surya

Tata surya (solar system) adalah  suatu system antariksa yang saling terikat gravitasi, dimana terdapat matahari dan benda-benda langit yang mengitari secara langsung maupun tidak langsung. Didalamnya juga terdapat benda-benda langit yang besar seperti planet. Tak lupa juga bulan, bulan merupakan satelit alami planet yang mengitari planet.

Secara bersama-sama, semua benda langit tersebut membentuk sistem tata surya yang menempati ruang angkasa dengan diameter 15 triliun kilometer.

Bagaimana asal-usul tata surya? Banyak ilmuwan yang memaparkan teori-teori terkait asal usul tata surya versi mereka masing-masing. Nah bagaimana teori-teori yang mereka ungkapkan. Simak artikel dibawah ini :

Asal Usul Tata Surya

Tata Surya (pixelstalk.com)

Terkait dengan asal-usul tata surya, para ahli astronomi yang mempelajari asal usul tata surya berpendapat bahwa seluruh sistem tata surya telah terbentuk kurang lebih 4,5 milyar tahun yang lalu. Hal tersebut berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan menghitung umur batuan-batuan yang ada di ruang angkasa dan juga di bumi. Berikut adalah berbagai macam teori asal usul tata surya yang dikemukakan oleh beberapa orang ahli :

  1. Teori Nebula atau Kabut (Kant-Laplace)
Teori Nebular (planetaryevolution.weebly.com)

Yang pertama adalah teori Nebula atau teori kabut. Teori Nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772) dan tahun 1734 disempurnakan lagi oleh Immanuel Kant (1274-1804) pada tahun 1775.

Teori serupa ternyata juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara mandiri pada 1796. Teori Nebula ini menyebutkan bahwa pada ahap awal, tata surya masih berkabut raksasa. Kabut raksasa ini terbentuk dari elemen debu, es dan gas yang itu disebut nebula dan unsur gasnya sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya tersebut menyebabkan kabut menyusu dan berputar dengan arah tertentu. Suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang terbesar tata surya yakni matahari. Matahari juga terus menyusut dan berputar semakin cepat dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi tersebut. Gas-gas memadat seiring dengan penurunan suhu, lalu membentuk planet dalam dan planet luar.

  1. Teori Pasang Surut atau Tidal (Jeans dan Jeffreys)
Teori Pasang Surut (informazone.com)

Pada tahun 1991, ada dua ilmuwan yang bernama James H. Jeans dan Harold Jeffers. Mereka menyampaikan teori Pasang Surut atau bisa disebut Tidal. Menurut teori pasang surut, ratusan juta tahun yang lalu sebuah bintang bergerak mendekati matahari dan kemudian menghilang. Kejadian itu menyebabkan separuh bagian dari matahari tertarik dan lepas. Dari bagian matahari yang terlepas inilah yang kemudian membentuk planet-planet.

Kejadian tersebut hampir sama dengan pasang surut air laut yang ada di muka bumi yang disebabkan oleh gaya tarik gravitasi bulan. Bedanya pasang surut air laut ukurannya lebih kecil dibandingkan teori pasang surut tata surya. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan kecilnya massa bulan dan jauhnya jarak antara bulan dan bumi (60 kali jari-jari bumi).

Teori asal usul tata surya menurut Jeans dan Jeffreys, bintang raksasa yang mendekati matahari massanya sama dengan massa matahari. Sehingga ketika bintang tersebut mendekat, pada permukaan matahari, maka akan terbentuk gunung-gunung gelombang yang besar sekali. Gunung-gunung tersebut memiliki ketinggian yang luar biasa dan berbentuk seperti lidah pijar raksasa. Lidah pijar yang menjulur dari matahari sampai ke bintang raksasa.

Lidah tersebut diperkirakan sangat panas dan mempunyai rongga-rongga yang nantinya akan pecah menjadi planet-planet. Bintang raksasa itu bergerak menjauhi matahari sehingga lama kelamaan pengaruhnya akan hilang. Selanjutnya planet-planet tersebut mengalami pendinginan dan bergerak memutari matahari. Pada planet-planet besar, proses pendinginan berlangsung lebih lambat daripada planet-planet kecil seperti Merkurius dan Bumi.

Selama proses pendinginan tersebut, planet-planet memutari matahari dengan orbit elips. Sehingga pada suatu saat memungkinkan jarak planet-planet itu menjadi lebih pendek dari biasanya. Pada saat itu terjadi pasang surut pada permukaan planet-planet dan menyebabkan sejumlah materi terlontar keluar dan membentuk satelit-satelit planet.

Pada teori pasang dijelaskan juga bahwa planet-planet tersebut berasal dari pecahan gas matahari yang berbentuk seperti cerutu. Sehingga ukuran planet-planet menjadi berbeda-beda, akibatnya planet-planet dibagian tengah seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus memiliki ukuran yang besar. Sedangkan pada bagian ujung planet-planetnya berukuran lebih kecil.

  1. Teori Planetesimal (Moulton dan Chamberlin)
Teori Planetesimal (pages.uoregon.edu)

Teori Planetesimal pada dasarnya hampir sama dengan teori pasang surut. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh seorang astronom bernama Forest R. Moulton (1878-1952) dan ahli kebumian yakni Thomas C. Chamberlin (1834-1928). Planetesimal sendiri berarti planet kecil yang memutari sebuah inti yang berbentuk gas.

Menurut Teori Planetesimal ini, Matahari telah ada sebagai salah satu dari sekian banyak bintang, pada suatu waktu ada sebuah bintang yang melintas dari kejauhan yang tidak terlalu jauh, sehingga terjadi pasang naik antara bintang dan juga matahari. Pada saat bintang itu berada jauh dari massa matahari jatuh ke permukaan matahari dan sebagian tersebar di sekitar matahari, maka ini disebut planetisimal yang dikenal sebagai planet yang berada di orbitnya dan di sekitar matahari.

  1. Teori Bintang Kembar (Fred Hoyle)
Teori Bintang Kembar (informazone.com)

Teori selanjutnya adalah teori yang sangat tidak asing yakni bintang kembar. Teori bintang kembar adalah salah satu dari banyaknya teori tentang pembentukan dan evolusi tata surya. Teori ini disampaikan oleh astronom Inggris R.A. Lyttleton, pada tahun 1956. Menurut teori, tata surya awalnya terbentuk dari dua buah bintang kembar raksasa.

Kemudian, salah satu bintang dari bintang kembar ini meledak sehingga menghasilkan puing-puing dan debu. Hingga akhirnya berevolusi mengelilingi mengelilingi bintang yang satunya (matahari) dan membentuk planet-planet beserta benda-benda langit lainnya..

Karena bintang yang tidak hilang masih memiliki gravitasi yang kuat, puing-puing tersebut tidak tertarik masuk ke dalam matahari melainkan bergerak mengelilinginya. Hingga akhirnya serpihan-serpihan debu dari ledakan tadi menyatu dan memilin hingga akhirnya membentuk planet.

Sedangkan batuan-batuan dari puing-puing bintang yang meledak berputar dan membentuk orbit asteroid. Teori ini mengacu pada hasil penelitian yang membuktikan bahwa pada sistem tata surya lainnya terdapat bintang kembar.

Sehingga Lyttelton meyakini bahwa asal usul tata surya kita adalah dari hasil ledakan dua buah bintang kembar. Dimana salah satu bintang meledak dan membentuk anggota tata surya. Sedangkan yang tidak hancur menjadi pusat tata surya.

  1. Teori Big Bang (George Lemaitre)
Teori Big Bang (universetoday.com)

Teori yang paling kontroversial adalah teori Big Bang. Teori ini pertama kali ditemukan oleh Abbe Georges Lemaitre. Ia adalah seorang kosmolog asal Belgia pada tahun 1920-an. Menurutnya, alam semester ini mulanya berasal dari gumpalan superatom yang berbentuk bola api kecil dengan ukuran sangat kecil. Gumpalan itu semakin lama, semakin memadat dan juga memanas, kemudian meledak dan memuntahkan seluruh isi dari alam semesta. Bigbang melepaskan sejumlah besar energi di alam semesta yang kemudian membentuk seluruh materi alam semesta dan kemudian berkembang hingga menjadi bentuk yang sekarang ini dan akan terus berkembang.

Teori Big bang atau ledakan besar ini adalah teori yang paling terkenal dan juga paling disetujui oleh para peneliti dan ilmuwan yang lainnya.

6.Teori Keadaan Tetap atau Steady-State (Bondi, Gold, dan Hoyle)

Galaksi Andromeda (thoughtco.com)

Selanjutnya adalah teori Steady state. Menurut teori ini, yaitu teori steady state (teori keadaan tetap) bahwa alam semesta belum memiliki awal dan tidak akan berakhir. Alam semesta dari dulu selalu tampak sama seperti sekarang, tidak ada yang berubah.

Semua materi di alam semesta terus berekspansi dan bergerak menjauhi kita. Teori keadaan tetap disampaikan oleh H. Bondi, T. Gold dan F. Foil dari Universitas Cambridge pada tahun 1948. Teori mengacu kepada prinsip kosmologi sempurna, yaitu pernyataan bahwa alam semesta dimanapun dan kapan pun akan tetap sama.

Teori ini di dukung oleh hasil penemuan galaksi baru yang mempunyai massa yang sebanding dengan galaksi lama. Sehingga beranggapan bawah alam semesta termasuk tata surya memiliki luas dan umur yang tak terhingga.

Sekian artikel terkait dengan beberapa teori ilmuwan perihal asal-usul tmengenai asal usul terbentuknya tata surya. Dari semua teori di atas, tidak ada teori asal-usul tata surya yang bisa dipastikan kebenarannya dan juga semua teori pembentukan tata surya tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Dikarenakan semuanya hanya perkiraan yang digunakan manusia untuk mendekati kebenaran. Salam.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here