Angka Kematian Corona di Amerika Kini Lebih Tinggi dari Italia

Nurses wait for patients at the main entrance of the Brescia hospital, northern Italy, Thursday, March 12, 2020. Italians woke up to yet further virus-containment restrictions after Premier Giuseppe Conte ordered restaurants, cafes and retail shops closed after imposing a nationwide lockdown on personal movement. For most people, the new coronavirus causes only mild or moderate symptoms, such as fever and cough. For some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness, including pneumonia. (AP Photo/Luca Bruno)

PESAT.id – Angka kematian dikarenakan virus corona atau COVID-19 di Amerika Serikat kini sudah melebihi Italia. Namun untuk melihat jumlah populasi di Amerika Serikat, angka kematian dikarenakan virus masih seperenam dari total angka kematian di Italia dan Spanyol.

Angka kematian karena virus Corona di Amerika Serikat sudah melebihi 20 ribu, tepatnya 20.577 orang. Angka kematian tertinggi dalam sehari di Amerika mencapai 2.108. Sedangkan angka kematian di Italia mencapai 19.468 orang dan di Spanyol, sebagai negara ketiga dengan angka kematian terbanyak, tercatat 16.606 orang. Jumlah angka kematian di dunia karena virus corona sudah mencapai 108.779 orang.

Diperkirakan berapa banyak orang yang akan meninggal di Amerika sudah terinfeksi virus corona dalam beberapa minggu terakhir ini karena data baru terus masuk.

Sebuah model proyeksi dari Universitas Washington telah memperkirakan sekitar 60.000 angka kematian di negara itu, jauh lebih sedikit dari 100.000 hingga 240.000 kematian yang diproyeksikan oleh White House kurang dari dua minggu lalu.

“Data nyata memberi tahu kita bahwa mengurangi aktifitas akan memberikan efek positif dengan juga menjaga jarak,” kata Dr. Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular.

“Dan sepertinya date lebih mengarah ke 60.000 dari pada 100.000 hingga 200.000.”

Dr. Deborah Birx dari White House mengatakan pada hari Jumat bahwa Amerika mulai mengurangi tingkat kurva, tetapi dia memperingatkan bahwa kita belum mencapai posisi terburuk epidemi – meskipun model dari Universitas Washington memproyeksikan sebagai puncak dari kematian harian.

Jumlah kasus di Italia Mulai Stabil

Sementara di Italia peningkatan harian kasus virus corona di negara itu kini lebih stabil. Pada hari Kamis, 9 April, Italia melaporkan 4.204 kasus baru dan 610 kematian, keduanya setara dengan beberapa hari terakhir.

Sementara itu, Amerika melaporkan 32.385 kasus baru dan 1.783 kematian pada hari yang sama.

Angka tersebut tidak dapat dijadikan alat ukur yang tepat karena perbedaan besar dalam populasi – Italia memiliki sekitar 60 juta penduduk, sedangkan Amerika memiliki lebih dari 320 juta penduduk. Tetapi data Italia yang mulai merata setelah lonjakan selama sebulan terakhir dapat memberikan model yang efektif untuk memproyeksikan korban virus di masa depan di Amerika.

Italia menjadi fokus begitu virus meluas ke luar China, dan rumah sakit di negara itu – terutama wilayah utara – dengan cepat dibanjiri pasien. Negara itu bahkan melakukan lockdown 9 Maret yang telah diperpanjang hingga 13 April dan diperkirakan akan diperpanjang lebih jauh lagi.

Birx mengatakan bahwa AS, untuk pertama kalinya, mulai melihat peningkatan “seperti yang dilakukan Italia sekitar seminggu yang lalu.”

Perkiraan Angka Kematian di Amerika Sebelumnya

Awal pekan ini, model University of Washington memproyeksikan sekitar 82.000 kematian, turun dari perkiraan sebelumnya. Perubahan pada model mencerminkan masuknya banyak data yang masuk.

Pada tanggal 31 Maret, White House memperkirakan bahwa sebanyak 240.000 orang Amerika akan mati dalam pandemic virus corona.

Dan pada pertengahan Maret, skenario terburuk diperkirakan sekitar 160 juta hingga 210 juta orang Amerika terinfeksi pada bulan Desember dan perkiraan bahwa sekitar antara 200.000 dan 1,7 juta orang dapat meninggal pada akhir tahun.

Berbicara kepada CNN, anggota senior fakultas Dr. Gregory Roth menjelaskan bahwa model selalu berubah.

“Perubahan dalam model didorong oleh data baru dan metode yang ditingkatkan,” kata Roth. “Ketika kami menerima lebih banyak data tentang kematian COVID-19, kami memperkirakan proyeksi kami akan menyesuaikan untuk mengikuti tren baru tersebut.”

Namun, proyeksi yang lebih optimis didasarkan pada asumsi bahwa orang Amerika akan tetap waspada tentang jarak sosial.

“Sangat jelas bahwa jarak sosial dapat, ketika diterapkan dan dipelihara dengan baik, mengendalikan epidemi, yang mengarah pada penurunan angka kematian,” kata Murray kepada CNN.

“Kami belum melihat pelonggaran jarak sosial di bagian manapun di Amerika Serikat. Di masa depan, jika jarak sosial dilonggarkan, kami akan khawatir bahwa akan ada kenaikan lagi dalam jumlah kasus,” terang Roth.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here