Tidak Gunakan Masker, Penumpang KRL Diturunkan

PESAT.id – Pandemik virus corona saat ini masih menjadi ketakutan banyak orang. Seluruh masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak dan mencuci tangan. Belum lama ini, bahkan dua penumpang bersama seorang balita bahkan tidak diizinkan menggunakan KRL commuterline di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat karena tidak menggunakan masker.

Manager External Relations PT KCI Adli Hakim mengatakan bahwa penumpang tersebut hendak menuju stasiun Parung Panjang. Namun karena dia tidak menggunakan masker, penumpang diminta untuk turun dan mencari masker terlebih dahulu.

“Kejadian pada Jumat siang belum waktunya berangkat. Pengguna dapat naik kereta berikutnya dengan catatan sudah menggunakan masker,” terang Adli.

Adli juga menerangkan bahwa saat ini para penumpang transportasi umum, termasuk kereta komuter diwajibkan untuk menggunakan masker. Hal tersebut dikatakan sudah diatur dalam peraturan Gubernur tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah DKI Jakarta yang berlaku efektif pada Jumat kemarin.

“Dimana masyarakat diwajibkan menggunakan masker sejak mulai ke luar dari rumah. Pasal 5 ayat 3 Pergub No. 33 Tahun 2020,” terangnya.

Bila tidak menggunakan masker, penumpang akan mendapat sanksi tidak diizinkan naik.

“Seluruh pengguna KRL juga wajib menggunakan masker saat berada di area stasiun dan di dalam kereta. Masker yang digunakan cukup masker dari kain dua lapis yang dapat dicuci untuk digunakan kembali,” kata dia.

Peraturan PSBB Jakarta

Terlebih lagi pemerintah Jakarta saat ini sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penerapan PSBB ini berlaku sejak kemarin hingga 14 hari ke depan.

Pada peraturan PSBB ini, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memutuskan ojek tidak bisa digunakan untuk mengangkut penumpang selama masa pembatasan sosial berskala besar. Ojek hanya diperbolehkan untuk mengangkut barang.

“Peraturan gubernur rujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan, maka ojek boleh untuk barang, tapi tidak untuk antarkan orang,” ucap Anies.

Sebelumnya Anies mewacanakan ojek dapat mengangkut penumpang, namun wacana tersebut tidak terealisasi.

“Kemarin sempat disampaikan bahwa ojek online, kita akan fasilitasi untuk bisa antar orang dan barang. Kemarin dalam pembicaraan dengan Kementerian Perhubungan, kita pandang untuk bisa diizinkan, tapi belum ada perubahan di peraturan Menteri Kesehatan, dan Pergub harus sejalan dengan rujukan Permen 9 Tahun 2020, maka kita atur ojek sesuai dengan pedoman pada Peraturan Menteri Kesehatan 9 Tahun 2020,” kata Anies.

Mengenai restoran dan warung, meski tetap buka, pembeli diharuskan untuk membawa pulang atau diantar ke kediaman dan tidak diperbolehkan makan di tempat.

“Kemudian di dalam sektor bahan makanan-minuman, warung, restoran, dan rumah makan bisa tetap buka tetapi tidak diizinkan untuk makan atau menyantap makanan di lokasi,” jelasnya.

“Semua makanan diambil, dibawa, tak ada dine in, take away. Bisa menggunakan delivery atau bisa datang ke warung dan dibungkus-dibawa,” lanjutnya.,

Anies mengatakan hal ini bukan serta-merta menutup kegiatan usaha rumah makan, melainkan menghentikan interaksi di rumah makan.

“Intinya, bukan menghentikan usaha rumah makannya, tapi menghentikan interaksi antarorang di rumah makan,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here